Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Fisika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Peserta Didik Kelas VIIIa SMP Negeri 3 Balusu Kabupaten Barru

Islam, Fahrul (2015) Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Fisika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Peserta Didik Kelas VIIIa SMP Negeri 3 Balusu Kabupaten Barru. S2 thesis, UNIVESITAS NEGERI MAKASSAR.

[img] Text
Fahrul Islam, 2013.doc

Download (197kB)

abstrak Penelitian ini bertujuan untuk (1) memperoleh gambaran tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen. (2) meningkatkan aktivitas belajar fisika peserta didik, dan (3) meningkatkan hasil belajar fisika terhadap peserta didik. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 3 siklus. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu Tahun Pelajaran 2011-2012. Pada setiap siklus dilakukan pengamatan terhadap aktivitas dan hasil belajar. Indikator keberhasilan penelitian adalah aktivitas peserta didik memenuhi ketercapaian 80% secara rata-rata, hasil belajar meningkat dan memenuhi kriteria ketuntasan minimal secara klasikal. Tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada setiap siklus dengan : (1) melakukan pengelompokan berdasarkan kemampuan yang diperoleh dari tes hasil belajar , (2) memotivasi peserta didik agar lebih aktif dalam pembelajaran, dan (3) mengarahkan kepada setiap anggota kelompok yang telah memahami materi pelajaran untuk lebih aktif membimbing anggota kelompok yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu Kabupaten Barru. Pendahuluan Dalam pelaksanaan pembelajaran guru seringkali diperhadapkan dengan berbagai tantangan, baik berasal dari guru maupun dari peserta didik, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu, tampak bahwa: (1) peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran. 30,00% dari jumlah peserta didik kurang memberikan respon terhadap pertanyaan yang disampaikan guru dan kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat, mereka cenderung menunggu informasi dari guru, (2) peserta didik menganggap pelajaran fisika adalah pelajaran yang sulit dan banyak rumus yang harus dihafal, (3) rendahnya sikap saling menghargai antar peserta didik, hal ini terlihat dari ungkapan atau kata-kata yang tidak sopan kepada peserta didik yang salah atau tidak mampu dalam menyelesaikan tugas dengan baik, (4) rendahnya daya serap peserta didik, hal ini tampak pada rata-rata hasil belajar IPA Terpadu, Salah satu penyebabnya mungkin karena proses pembelajaran yang masih terpusat pada guru (teacher centered), metode pembelajaran yang didominasi ekspositori dan pendekatan yang lebih banyak bersifat tekstual. Meskipun model pembelajaran kelompok pernah diterapkan namun usaha tersebut belum menunjukkan ciri pembelajaran kooperatif, hal ini terlihat dimana tanggung jawab terhadap tugas hanya dilakukan oleh seorang anggota kelompok (peserta didik dengan kemampuan tinggi) sedangkan anggota kelompok yang lain hanya menunggu dan menyalin tugas tersebut. Pada sisi yang lain peserta didik dengan kemampuan baik belum mampu membimbing anggota kelompoknya dalam memahami materi pembelajaran sehingga hasil belajar peserta didik belum maksimal. Melalui kegiatan eksperimen peserta didik dapat melakukan olah pikir (minds on) dan olah tangan (hand on). Kegiatan eksperimen dalam pembelajaran mempunyai peran motivasi dalam belajar, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan sejumlah keterampilan dan meningkatkan kualitas belajarnya. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu tahun pelajaran 2011/2012?, (2) Apakah terjadi peningkatkan aktivitas belajar fisika peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu tahun pelajaran 2011/2012 setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen?, dan (3) Apakah terjadi peningkatkan hasil belajar fisika peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu tahun pelajaran 2011/2012 setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen? Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Diperoleh gambaran tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen pada peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu, (2) Meningkatkan aktivitas belajar fisika terhadap peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu, dan (3) Meningkatkan hasil belajar fisika terhadap peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga peserta didik dapat mengkoordinasikan diri dan teman sekelompok mereka dalam melakukan pembelajaran. Tipe STAD dikembangkan oleh Robert E. Slavin dari Universitas John Hopkins. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menempatkan peserta didik dalam belajar secara kelompok yang beranggotakan empat atau lima orang secara heterogen berdasarkan kemampuan (prestasi), jenis kelamin, dan etnik. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual memberikan peserta didik bukan hanya berupa konsep namun lebih jauh mengantarkan peserta didik untuk memahami proses yang terjadi dalam perumusan konsep tersebut. Salah satu metode dapat diterapkan dalam pembelajaran fisika adalah metode eksperimen, Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen seperti pada tabel berikut ini. Tabel Sintaks pembelajaran model kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen Fase Tingkah laku guru Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik Fase 2 Menyajikan informasi Fase 3 Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase 4 Membimbing kelompok belajar dan bekerja Fase 5 Evaluasi Fase 6 Memberikan penghargaan Menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi peserta didik, mengkaitkan pelajaran sekarang dengan pelajaran terdahulu. Menyajikan informasi kepada peserta didik tentang eksperimen/percobaan yang akan dilaksanakan. Menjelaskan kepada peserta didik cara membentuk kelompok belajar dan mengorganisasikan peserta didik ke dalam beberapa kelompok (setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang dan heterogen). Membimbing dan mengarahkan kelompok-kelompok belajar pada saat melakukan eksperimen dan mengerjakan tugas Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau meminta peserta didik untuk mempresentasikan hasil kerjanya kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajarnya baik secara individu maupun kelompok. Sumber : Muh Ilyas, 2010 Untuk mendapatkan data tentang aktivitas peserta didik dalam pembelajaran oleh Trianto (2009) mengemukakan beberapa indikator: (1) mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, (2) berdiskusi/tanya jawab antara peserta didik dengan peserta didik atau dengan peserta didik dengan guru tentang materi pelajaran, (3) membaca/mengerjakan LKS/materi ajar, (4) mengerjakan tugas-tugas yang kontekstual dan relevan,(5) bekerja sama dengan peserta didik, (6) berlatih melakukan keterampilan proses, (7) menyajikan hasil pengamatan/percobaan, (8) menyimpulkan hasil pengamatan/percobaan, (9) mencatat materi yang telah dipelajari baik berupa ringkasan maupun dalam bentuk peta konsep. Hasil belajar fisika dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan terhadap materi fisika pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari pembelajaran fisika selama kurun waktu tertentu. Kerangka pikir penelitian yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanakan penelitian adalah sebagai berikut: Gambar Bagan Kerangka Pikir Berdasarkan latar belakang dan kerangka pikir tersebut, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas VIIIA secara rata-rata sebesar 50%, (2) Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIIIA, sehingga memenuhi ketuntasan klasikal yakni 85% peserta didik mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal pada masing-masing kompetensi dasar. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), (Kunandar, 2008). Tindakan dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen terhadap peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu. Pelaksanaan penelitian meliputi: perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection) yang dilaksanakan pada masing-masing siklus. Adapun model siklus dalam bentuk bagan yang digunakan adalah seperti pada gambar berikut. Gambar Skema Penelitian Tindakan Kelas Aktivitas belajar peserta didik selama diterapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen secara umum terjadi peningkatan setelah dilakukan beberapa tindakan pada setiap siklusnya. Perkembangan aktivitas belajar peserta didik selengkapnya diperlihatkan pada gambar berikut ini. Gambar Persentase hasil pengamatan aktivitas peserta didik Dalam penelitian ini terdapat beberapa aspek yang memengaruhi keberhasilan penelitian ditinjau dari segi hasil belajar yaitu hasil tes hasil belajar pada siklus 1, hasil tes hasil belajar pada siklus 2, dan hasil tes hasil belajar siklus 3. Perkembangan hasil belajar peserta didik selama penelitian dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar Diagram hasil belajar fisika peserta didik Pada siklus 1 setelah dilakukan Tes Hasil Belajar 1 terhadap 20 orang peserta didik, terdapat 7 orang peserta didik yang tidak mencapai nilai KKM atau ketuntasan klasikal sebesar 65% dengan rata-rata skor perolehan hasil belajar mencapai 74,78. Pada siklus 2 terjadi peningkatan rata-rata skor perolehan hasil belajar fisika sebesar 76,71 dengan persentase ketuntasan klasikal mencapai 80% , pada siklus 2 terdapat 4 orang peserta didik yang tidak mencapai nilai KKM yaitu sebesar 65. Pada siklus 3 rata-rata skor perolehan hasil belajar fisika sebesar 83,37 dengan persentase ketuntasan klasikal mencapai 85%. Hal tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap skor perolehan hasil balajar fisika pada setiap siklusnya melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen, meskipun terjadi peningkatan rata-rata skor hasil belajar fisika pada setiap siklusnya, namun berdasarkan tes hasil belajar masih terdapat 3 orang peserta didik yang tidak mencapai kriteria ketuntasan pada setiap siklusnya. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kurangnya persiapan dalam menghadapi ujian dan berdasarkan analisis terhadap skor perolehan tes hasil belajar yang diperoleh pada setiap siklusnya mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan butir soal yang memerlukan perhitungan matematis. Hasil analisis tes hasil belajar peserta didik pada setiap siklusnya berdasarkan persentase ketuntasan klasikal, diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Gambar Diagram Persentase Ketuntasan Klasikal . Berdasarkan analisa data hasil tes hasil belajar pada siklus 3 menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik, dimana ketuntasan pembelajaran telah mencapai kriteria ketuntasan minimal yang dipersyaratkan pada masing-masing kompetensi dasar dan tercapainya ketuntasan secara klasikal 85%. Perkembangan afektif peserta didik selama diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen diperoleh melalui pengamatan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada setiap pertemuan dengan menggunakan lembar pengamatan penilaian afektif. Perkembangan afektif peserta didik dilakukan melalui pengamatan terhadap 7 aspek pengamatan yaitu: (1) kemauan dalam menerima pembelajaran, (2) memperhatikan pembelajaran, (3) menyampaikan pertanyaan, (4) menjawab/mengutarakan pendapat, (5) menyampaikan pendapat/ide, (6) bekerja sama, (7) menghargai pendapat orang lain/ menjadi pendengar yang baik. Hasil analisis deskriptif terhadap penilaian afektif peserta didik dapat dilihat pada Tabel berikut ini. Tabel Hasil Penilaian Afektif Aspek yang diamati Nilai Rata-rata (%) Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 1. Kemauan dalam menerima pembelajaran 2. Memperhatikan pembelajaran 3. Menyampaikan pertanyaan 4. Menjawab/ mengutarakan pendapat 5. Menyampaikan pendapat/ ide 6. Bekerja sama 7. Menghargai pendapat orang lain/ menjadi pendengar yang baik. 75 80 82 77 81 89 91 80 83 87 88 88 92 93 92 88 97 95 95 97 93 Rata-rata 82 87 94 Dari tabel, menunjukkan peningkatan terhadap seluruh aspek pengamatan pada setiap siklusnya. Pada siklus 1 (pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 5) persentase penilaian hasil belajar dalam ranah afektif sebesar 82%, dan pada siklus 2 (pertemuan 6 sampai dengan pertemuan 8) persentase penilaian hasil belajar dalam ranah afektif sebesar 87% dan pada siklus 3 (pertemuan 9 sampai dengan pertemuan 11) persentase penilaian hasil belajar dalam ranah afektif mencapai 94%. Perkembangan psikomotorik peserta didik selama diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen dilakukan melalui pengamatan terhadap 3 aspek pengamatan yaitu: (1) menyiapkan dan merapikan alat dan bahan eksperimen, (2) menggunakan alat dan bahan eksperimen, dan (3) menggunakan alat ukur. Pengamatan dilakukan pada setiap pertemuan dengan menggunakan lembar pengamatan penilaian psikomotorik. Hasil analisis deskriptif pada ranah psikomotorik peserta didik dapat dilihat pada Tabel berikut ini. Tabel Hasil Penilaian Psikomotorik Aspek yang diamati Nilai Rata-rata (%) Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 1. Menyiapkan dan merapikan alat dan bahan praktikum. 2. Menggunakan alat dan bahan eksperimen. 3. Menggunakan alat ukur. 67,0 65,9 66,3 79,6 77,9 85,8 86,7 85,8 85,7 Rata-rata 66,4 77,7 86,1 Terjadi peningkatan terhadap seluruh aspek pengamatan pada setiap siklusnya. Pada siklus 1 (pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 5) penilaian hasil belajar dalam ranah psikomotorik secara rata-rata sebesar 66,4 dan pada siklus 2 (pertemuan 6 sampai dengan pertemuan 8) penilaian hasil belajar secara rata-rata sebesar 77,7 dan pada siklus 3 (pertemuan 9 sampai dengan pertemuan 11) penilaian hasil belajar dalam ranah psikomotorik secara rata-rata mencapai 86,1. Analisa data hasil pengamatan terhadap keterlaksanaan perangkat pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3 menunjukkan bahwa seluruh fase dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD terlaksana seluruhnya. Pada siklus 1 diperoleh rata-rata keterlaksanaan (M) pada seluruh fase pembelajaran sebesar 1,94, pada siklus 2 diperoleh rata-rata keterlaksanaan (M) pada seluruh fase pembelajaran sebesar 1,98, dan pada siklus 3 diperoleh rata-rata keterlaksanaan (M) pada seluruh fase pembelajaran sebesar 1,99, Tercapainya indikator keberhasilan dalam penelitian ini diperoleh setelah melalui beberapa tahap pada setiap siklusnya. Tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi yang dilakukan selama siklus berjalan untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun dan merencanakan tindakan pada siklus selanjutnya. Berdasarkan karakteristik kelas VIIIA pada tahun pelajaran 2011-2012 setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen menunjukan terjadinya peningkatan terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar fisika. Tindakan yang dilakukan dalam setiap siklus bertujuan untuk memperbaiki rendahnya aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik kelas VIIIA yakni tercapainya aktivitas belajar peserta didik memenuhi ketercapaian 80% dan ketuntasan klasikal 85% , kelemahan dari pelaksanaan penelitian adalah tidak dilakukannya tindakan yang bersifat individu peserta didik, sehingga berdasarkan tes hasil belajar selama penelitian terdapat 3 orang peserta didik yang tidak mencapai nilai KKM yang dipersyaratkan. LKPD yang dikerjakan oleh masing-masing kelompok pada setiap pertemuan dikumpulkan dan dilakukan penilaian. Indikator penilaian terhadap pekerjaan peserta didik berupa kemampuan dalam : (1) menuliskan hasil pengamatan, (2) menuliskan kesimpulan, dan (3) mengerjakan/ melengkapi pernyataan soal. Pada pertemuan awal siklus pertama masih tampak pada beberapa anggota kelompok yang kurang aktif dalam mengikuti dan menyelesaikan langkah-langkah dalam LKPD, penyelesaian LKPD masih dikerjakan oleh ketua kelompok. Setelah diberikan pengarahan dan motivasi tentang keberhasilan kelompok maka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya sudah tampak kerja sama dan diskusi dalam mengerjakan LKPD. Pada siklus kedua dan ketiga, tampak bahwa semua anggota kelompok berperan aktif dalam melaksanakan dan mengikuti langkah-langkah dalam LKPD. Setelah melakukan eksperimen, setiap anggota kelompok memberikan pendapat dan menyampaikan hasil pengamatan mereka dalam diskusi kelompok untuk membuat suatu kesimpulan dan bersama-sama mengerjakan/ melengkapi soal-soal yang terdapat pada LKPD. Rata-rata skor perolehan dari setiap kelompok pada setiap siklusnya semakin baik. Pada siklus ketiga rata-rata skor perolehan mencapai 97,78. Hasil penilaian LKPD selengkapnya diperlihatkan pada tabel berikut ini. Tabel 4.6 Skor Perolehan terhadap LKPD Siklus LKPD Skor Perolehan 1 1 93,33 2 95,56 3 95,56 4 97,78 5 95,56 Rata-rata 95,60 2 6 95,56 7 97,78 8 97,78 Rata-rata 97,04 3 9 97,78 10 97,78 11 97,78 Rata-rata 97,78 Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas VIIIA pada SMP Negeri 3 Balusu pada tahun pelajaran 2011-2012 dapat disimpulkan sebagai berikut: Aktivitas belajar peserta didik menjadi meningkat pada setiap siklusnya setelah dilakukan tindakan berupa: (1) mengelompokkan peserta didik dalam 5 kelompok berdasarkan kemampuan peserta didik yang diperoleh dari tes hasil belajar pada pembelajaran sebelumnya dan mengatur letak masing-masing kelompok pada setiap siklus, (2) mengarahkan peserta didik untuk membimbing dan membantu teman sekelompoknya dalam memahami materi pelajaran, (3) memotivasi peserta didik agar aktif mengikuti seluruh fase pembelajaran dan mengikuti langkah-langkah dalam LKPD. Tercapainya kriteria ketuntasan klasikal pada siklus 3 sebesar 85% setelah dilakukan tindakan berupa: (1) memberikan bimbingan yang lebih intensif kepada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran, (2) Mengarahkan peserta didik yang telah memahami materi pelajaran untuk membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran, khususnya kepada 4 orang peserta didik yang tidak tuntas pada siklus 2 melalui pemberian tugas, latihan soal, dan belajar kelompok. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar fisika peserta didik kelas VIIIA SMP Negeri 3 Balusu tahun pelajaran 2011-2012. A. SARAN 1. Dalam pembelajaran selanjutnya diperlukan perhatian khusus kepada 3 orang peserta didik yang selama penelitian berlangsung belum mencapai nilai KKM yang dipersyaratkan pada masing-masing kompetensi dasar. Salah satu alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah memberikan kesempatan dalam memilih teman kelompok yang disenanginya dan memberikan bimbingan khusus. 2. Dalam kegiatan pembelajaran fisika di kelas, diharapkan guru dapat menjadikan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen sebagai salah satu tindakan alternatif dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar fisika peserta didik dengan memperhatikan karakteristik kelas yang akan dibelajarkan. Daftar Pustaka Darsono, M. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press. Depdiknas. 2002b. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar). Jakarta : Depdiknas. Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Djamarah, S. B, Zain. A, 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. Eggen, P. D. & Kauchack, Donald. P. 1996. Strategis for Teacher Teaching Content and Thinking Skills. Boston: Allyn and Bacon. Hamalik, O.2001. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara. Hamid, D. 2009. Kemampuan Dasar Mengajar (Landasan Konsep dan Implementasi). Bandung: Alfabeta. Ibrahim, M., Rachmadiarti, F., Nur, M., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press. Khaeruddin, dkk .2005. Pembelajaran Sains (IPA). Makassar : Universitas Negeri Makassar. Kunandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya Ratumanan, T.G. 2002. Belajar dan Pembelajaran. FKIP Universitas Pattimura Ambon. Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/ Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sanjaya, W. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media. Slavin, R. E. 2005. Cooperative Learning: Theory, research and practice.London: Allymand Bacon. Terjemahan Nurulita. Nusamedia. Sudjana, N. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka.: Jakarta.

Item Type: Thesis (S2)
Subjects: PASCASARJANA > FISIKA (S2)
Divisions: PROGRAM PASCASARJANA
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 13 Dec 2016 06:51
Last Modified: 13 Dec 2016 06:51
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/1744

Actions (login required)

View Item View Item