Kerajaan Bone pada masa Jennang Tobala (1643-1660)

Raoda, Raoda (2015) Kerajaan Bone pada masa Jennang Tobala (1643-1660). S1 thesis, UNIVESITAS NEGERI MAKASSAR.

[img] Text
Raoda,.docx

Download (12kB)

ABSTRAK Raoda, 2014. Kerajaan Bone pada masa Jennang Tobala (1643-1660). Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar (dibimbing oleh Bahri dan H.Burhanuddin Pabitjara). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi Kerajaan Bone sebelum Jennang Tobala, Latar belakang pengangkatan Jennang Tobala sebagai pelaksana tugas di Kerajaan Bone, dan kondisi Kerajaan Bone pada masa Jennang Tobala. Penelitian dilakukan melalui kajian pustaka dengan menggunakan metode sejarah yang melalui beberapa tahapan kerja, yaitu heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi sumber, interpretasi dan historiografi (penulisan) yang merupakan pengungkapan kisah sejarah secara tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penyerangan yang dilakukan oleh Gowa pada tahun 1643 terhadap La Maddaremmeng Raja Bone ke XIII di Cimpu daerah Luwu, Kerajaan Bone dijadikan sebagai daerah jajahan atau palili ata rikale oleh Gowa. Kemudian Raja Gowa Sultan Malikussaid dan hadat tujuh kerajaan Bone mengangkat Tobala sebagai Jennang di Bone dibawah daulat Raja Gowa disisi lain sebagian bangsawan yang masih berpihak kepada La Maddaremmeng dan oleh hadat tujuh mengangkat La Tenriaji Tosenrima sebagai Raja Bone ke XIV pada tahun yang sama (1643), maka pada saat itu posisi Tobala sebagai Jennang untuk sementara dibekukan baru kembali berfungsi sebagai Jennang setelah kekalahan Latenriaji Tosenrima di daerah Pasempek. Kemudian pada tanggal 11 Oktober 1660 Gowa beserta sekutunya Wajo kembali menyerang Bone di Lamuru karena Tobala yang dibantu oleh La Tenritatta membebaskan rakyat Bone dan Soppeng dari Gowa tanpa sepengetahuan Raja Gowa dan pada saat itu Tobala tewas. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa selama diangkatnya Tobala sebagai Jennang pada tahun1643-1660 (17 tahun) Kerajaan Bone dijadikan sebagai palili ata rikale oleh Gowa. Selain itu oleh dewan hadat tujuh Kerajaan Bone terjadi ketidak konsistenan karena selain ia mengangkat Tobala sebagai Jennang di Kerajaan Bone juga mengangkat La Tenriaji sebagai Raja Bone ke XIV namun setelah pengangkatan La Tenriaji posisi Jennang Tobala dibekukan dalam artian untuk sementara tidak berfungsi, baru berfungsi kembali sebagai Jennang setelah Kekalahan La Tenriaji Tosenrima di Pasempek.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: FAKULTAS ILMU SOSIAL > Pendidikan Sejarah
Divisions: FAKULTAS ILMU SOSIAL
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 23 Nov 2016 06:01
Last Modified: 23 Nov 2016 06:01
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/1276

Actions (login required)

View Item View Item