“Gejala Bahasa (Kontaminasi, Pleonasme, dan Hiperkorek) pada Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Makassar”. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

Maghfirah, Nurul (2016) “Gejala Bahasa (Kontaminasi, Pleonasme, dan Hiperkorek) pada Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Makassar”. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar. S1 thesis, FBS.

[img] Text
artikel.docx

Download (34kB)

ABSTRAK Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan bentuk gejala bahasa kontaminasi pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Makassar, mendeskripsikan bentuk gejala bahasa pleonasme pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Makassar, dan mendeskripsikan bentuk gejala bahasa hiperkorek pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, maupun kalimat yang mengandung gejala bahasa kontaminasi, pleonasme dan hiperkorek. Sumber data pada penelitian ini adalah karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Makassar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik dokumentasi, teknik baca, dan teknik catat. Teknik analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data, yakni berupa karangan argumentasi siswa, mengidentifikasi data, mengklasifikasikan data, menjelaskan kesalahan atau mendeskripsikan dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk gejala bahasa yang ditemukan pada karangan argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Makassar adalah: Pertama, bentuk gejala bahasa kontaminasi meliputi: a) kontaminasi kalimat, b) kontaminasi frasa, yaitu berbagai macam, seringkali, pergaulan bebas yang salah, mengintrospeksi diri, dan lain sebagainya, dan dan masih banyak lainnya, c) kontaminasi bentukan kata, yaitu berkembang biakkan, difaktorkan, dan permasalah. Kedua, bentuk gejala bahasa pleonasme meliputi: a) searti dalam satu frasa, yaitu berserakan di mana-mana, tidak lain tidak bukan hanyalah, mestinya kita harus, justru malah, disebabkan karena, hanya separuhnya saja, manfaat internet adalah internet bisa digunakan, suasana hati dan perasaan, dan mulai dari, b) kata kedua tidak perlu, yaitu masuk ke dalam, seperti misalnya, anak muda remaja, contoh seperti, perbuatan dan kelakuan, dan turun ke bawah, c) bentuk jamak dinyatakan dua kali, yaitu kita semua, penyakit-penyakit lainnya, banyak pencegahan-pencegahan, banyak para remaja, banyaknya bencana-bencana, dan kita masyarakat. Ketiga, bentuk gejala bahasa hiperkorek meliputi bentuk p/ dijadikan /f, yaitu berfikir dan bernafas. Kemudian, bentuk gejala hiperkorek lain yang ditemukan pada karangan argumentasi siswa, yaitu kariatif, nampaknya, dan aktifitas. Kata Kunci: gejala bahasa, kontaminasi, pleonasme, hiperkorek

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA > Pendidikan Bahasa dan sastra Bahasa Indonesia
Divisions: PROGRAM PASCASARJANA
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 30 Apr 2018 01:32
Last Modified: 30 Apr 2018 01:32
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/8189

Actions (login required)

View Item View Item