Kapitalisme Bugis: Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Bugis

Ahmadin, A (2008) Kapitalisme Bugis: Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Bugis. Pustaka Refleksi, Makassar. ISBN 9789793570853

[img]
Preview
Text
Kapitalisme Bugis Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Bugis_Ahmadin_Pustaka Refleksi_2008.pdf - Published Version

Download (138kB) | Preview
[img]
Preview
Image
COVER BUKU KAPITALISME BUGIS ASPEK SOSIO-KULTURAL DALAM ETIKA BISNIS ORANG BUGIS.jpg

Download (49kB) | Preview

Meski kalangan ahli ilmu-ilmu sosial terutama para teoritisi ekonomi dan sejarawan pernah menga-lami kesulitan dan masih bergumul di antara rumitnya menyusun serta menetapkan konsep kapitalisme yang final, namun dalam berbagai literatur dan wacana ilmiah, istilah tunggal ”kapitalisme” kelihatannya bukan lagi hal yang baru. Karya kesohor milik Fernand Braudel “Civilization and Capitalism 15th-18th (1981)” yang terdiri atas tiga jilid, telah menggambarkan secara historis-spektakuler mengenai asal usul dan perkembangan kapitalisme. Pada jilid I (The Structure of Everiday Life), dijelaskan bahwa prasyarat timbul dan pertumbuhan kapitalisme adalah munculnya kota-kota yang didominasi oleh kaum borjuis beradab dan bebas dari tekanan kaum bangsawan. Itulah yang dimaksud Braudel dengan kategori waktu “struktur”. Pada Jilid II (The Weel of Commerce) tokoh terkemuka ”Annales School” ini menampilkan tentang mekanisme perdagangan di Eropa yang berintikan pasar dan sistem kredit murah. Pada jilid III (The Perspective of the World) sang produser model penulisan sejarah struktural ini mengaitkan sistem ekonomi Eropa dengan wilayah-wilayah perdagangan lain melalui maskapai dagang raksasa seperti VOC dan EIC. Hal inilah yang kemudian dimaksudkan sebagai “konjung-tur”. Demikian pula dalam berbagai literatur lain, kapitalisme baik dalam konteks istilah maupun ideologi, telah banyak dijelaskan bahkan sudah ditafsirkan beragam berdasarkan kepentingan, jiwa zaman, kategori historis, dan jenis hampiran pemikiran lainnya. Berbeda dengan istilah ”Kapital-isme Bugis” yang digunakan sebagai judul buku ini, tampak masih belum akrab di telinga. Lalu apa spirit/motif dan bagaimana kelahiran serta perkemba-ngan Kapitalisme Bugis tersebut?. Adakah semisal semangat Calvinisme (Protestant Ethic) seperti di Inggris dan Eropa Barat atau ”Tokugawa Religion” di Jepang sebagai spirit kapitalisme yang dimiliki oleh orang Bugis sehingga demikian menariknya untuk dikaji?. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan inilah, kepenasaran ilmiah dan keingintahuan historis mesti ditumbuhkan dalam upaya menelusuri kearifan lokal apa sesungguhnya di balik etika bisnis orang Bugis. Bahkan satu pertanyaan fundamental akan menyusul dan tidak kalah menarik, yakni apakah semangat Kapitalisme Bugis pada gilirannya juga mampu melahirkan imperialisme dan kolonialisme seperti halnya di negera-negara Eropa?. Sederet uraian yang tersaji dalam buku ini, kiranya merupakan jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut. Mengawali kajian dalam buku ini, saya sengaja menggambarkan pengertian kapitalisme, konsep, serta sekelumit sejarahnya. Selain untuk memperkaya makna yang dikandungnya, juga membantu proses penyempitan makna induktif sehingga tampil menjadi satu karakter tersendiri. Tanpa bermaksud menafikan ragam makna yang ada padanya, maka Kapitalisme Bugis yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah paham kemodalan, yakni orientasi usaha atau produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Bagian berikut buku ini masing-masing mengurai-kan tentang profil Bugis (Wajo), yang dimaksudkan sebagai pengenalan atas karakteristik etnis ini. Pentingnya falsafah hidup sebagai sumber motivasi bagi orang Bugis, maka satu pembahasan tersendiri menguraikan tentang beberapa pesan pendahulu (orang-orang bijak). Sebut saja pentingnya kerja keras (reso) yang menentukan kesuksesan seseorang dalam kehidupan, sebagaimana ungkapan: ”resopa temma-ngingi namallomo naletei pammase dewata” (hanya kerja keras dan sungguh-sungguh mendapat rahmat dari dewata/yang maha kuasa). Prinsip kerja keras tersebut, juga dikawal oleh pesan leluhur lain berbunyi: “aja mumaelo natunai sekke, naburuki labo” (jangan terhina oleh sifat kikir dan hancur oleh sifat boros). Karena itu, Orang Bugis Wajo pada umumnya memegang pada prinsip Tellu Ampikalena To Wajo,E (tiga prinsip hidup) yaitu: Tau’E ri Dewata, siri’E ripadata rupatau, siri’E watakkale (Ketakwaan pada Allah SWT, rasa malu pada orang lain dan pada diri sendiri). Bahkan dilengkapi dengan definisi sukses dan kaya menurut pesan yang terkandung dalam naskah Lontarak. Selain makna siri’ yang dihubungkan dengan motivasi usaha dan etika bisnis orang Bugis, kebiasaan merantau juga dipandang sebagai peluang besar. Bahkan kebiasaaan ini, dapat dikategorikan sebagai strategi ekonomi. Karena itu, beberapa catatan sejarah mengenai kiprah orang Bugis di tanah rantau, pun menjadi bagian penting apalagi dihubungkan dengan prinsip “Tellu Cappa” (tiga ujung) sebagai pola adaptasi dan mekanisme integrasi. Strategi membaurkan diri orang-orang Bugis melalui prinsip “Tellu Cappa” yakni ujung lidah (diplomasi), ujung badik (penaklukan atau perang), dan ujung kemaluan (perkawinan) inilah yang akan menggiring kita pada satu pertanyaan mendasar yakni apakah ini dapat dikategorikan imperialisme (atau ekspansi)?. Benarkah kekuasaan yang dibagun oleh para perantau Bugis di berbagai tempat merupakan dorongan jiwa kapitalis atau ada motif lain. Pada penghujung kajian, diuraikan gejala memudarnya jiwa kapitalis dan prospeknya, serta kemungkinan upaya preventif yang seharusnya dilakukan. Akhirnya, kita berharap semoga buku kecil memberi makna besar terutama untuk melengkapi literatur mengenai kebugisan.

Item Type: Book
Subjects: FAKULTAS ILMU SOSIAL > ILMU SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL > Pendidikan Sejarah
FAKULTAS ILMU SOSIAL > Sosiologi
Divisions: FAKULTAS ILMU SOSIAL
Depositing User: Dr Ahmadin Umar
Date Deposited: 08 May 2018 05:39
Last Modified: 15 May 2018 03:05
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/8135

Actions (login required)

View Item View Item