Tradisi Akkaddo Minynyak Pada Rangkaian Pesta Pernikahan di Makassar (Pengamatan Keluarga Saharu Bin Mangureang di Makassar)

Mutmainnah, Nur (2011) Tradisi Akkaddo Minynyak Pada Rangkaian Pesta Pernikahan di Makassar (Pengamatan Keluarga Saharu Bin Mangureang di Makassar). Diploma thesis, Fak. SENI DAN DESAIN.

[img] Text
Skripsi.doc

Download (47MB)

Abstract

ABSTRAK Permasalahan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi jawaban tentang bagaimana latar belakang keberadaan Tradisi Akkaddo Minynyak pada rangkaian pesta pernikahan di Makassar serta prosesi dan perkembangannya (pengamatan keluarga Saharu Bin Mangureang). Teknik pengumpulan data dalam Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Selain buku, untuk mengumpulkan data yang otentik maka dilakukan metode dan instrumen yang dianggap valid dan variabel yakni wawancara dan dokumentasi yang mampu menguraikan dan menggambarkan secara jelas dan obyektif tentang data tradisi Akkaddo Minynyak, Analisis data digunakan dengan teknik kulitatif kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif, Hasil penelitian meliputi: 1) Latar Belakang yang merupakan adat dan kebiasaan raja-raja Bugis- Makassar dalam proses perkawinan atau syukuran kemudian di kembangkan oleh Saharu Bin Mangureang selanjutnya dibudayakan oleh keluarga dan masyarakat secara turun-temurun 2) Prosesi Akkado Minynyak pada keluarga Saharu Bin Mangureang meliputi unsur-unsur yang telah ada seperti Appatala/Persiapan, Patoana Totoa (Hidangan untuk roh leluhur), Papasabbi Unti (Sesajen Pisang), Panai/Panaung (Naik turun), Batu’na/Bilang ulu (Bersedekah), Leko Parappo (Daun Bebuah), Makkaddo Minynyak (Makanan Berminyak), Salamaka (Keselamatan). 3) Perkembangan tradisi Akkaddo Minynyak dimulai pada zaman kerajaan Bugis-Makassar, hingga sekarang sudah mulai berkembang di kalangan masyarakat. Pada tahun 1942, keluarga Saharu Bin Mangureang baru mulai mengenal tradisi Akkaddo Minynyak. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa Tradisi Akkaddo Minynyak pada rangkaian pesta pernikahan di Makassar (pengamatan keluarga Saharu Bin Mangureang) menganut aliran anemisme dimana pemaknaannya di peruntukkan kepada anak dari Saharu bin Mangureang yang telah meninggal (Kembar Buaya) yang kemudian mereka budayakan secara turun temurun kepada anak hingga cucu-cucunya.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: FAKULTAS SENI DAN DESAIN > Pendidikan sendratasik
Divisions: FAKULTAS SENI DAN DESAIN
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 08 Mar 2018 06:15
Last Modified: 08 Mar 2018 06:15
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/5536

Actions (login required)

View Item View Item