HUBUNGAN SOCIABILITY DENGAN HOSTILITY PADA PECANDU SHABU (AMPHETAMINE) DI LAPAS NARKOTIKA KLAS IIA SUNGGUMINASA

APRIANSYAH, ANDI MUHAMMAD (2017) HUBUNGAN SOCIABILITY DENGAN HOSTILITY PADA PECANDU SHABU (AMPHETAMINE) DI LAPAS NARKOTIKA KLAS IIA SUNGGUMINASA. S1 thesis, Universitas Negeri Makassar.

Full text not available from this repository.

RINGKASAN SKRIPSI HUBUNGAN SOCIABILITY DENGAN HOSTILITY PADA PECANDU SHABU (AMPHETAMINE) DI LAPAS NARKOTIKA KLAS IIA SUNGGUMINASA ANDI MUHAMMAD APRIANSYAH 1271041041 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR MAKASSAR 2017 HUBUNGAN SOCIABILITY DENGAN HOSTILITY PADA PECANDU SHABU (AMPHETAMINE) DI LAPAS NARKOTIKA KLAS IIA SUNGGUMINASA Andi Muhammad Apriansyah (andimuhammadapriansyah@gmail.com) Eva Meizara Puspita Dewi (evabasti@yahoo.com) Faradillah Firdaus (ilafirdaus@yahoo.com) Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar Jl. AP Pettarani Makassar, 90222 ABSTRAK Andi Muhammad Apriansyah, Eva Meizara Puspita Dewi, & Faradillah Firdaus. (2017). Hubungan Sociability dengan Hostility pada Narapidana Pecandu Shabu (amphetamine) di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Sungguminasa. Skripsi. Makassar. Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar. Pecandu shabu (amphetamine) yang memiliki sociability yang tinggi akan dapat kembali diterima dan bermanfaat di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sociability dengan hostility pada narapidana pecandu shabu (amphetamine) di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Sungguminasa. Subjek penelitian ini sebanyak 94 pecandu yang menggunakan teknik accindental sampling. Penelitian ini menggunakan Uji Spearman. Hasil penelitian ini bahwa ada hubungan negatif sociability dengan hostility (p=0,000, r=-0,514). Implikasi dalam penelitian ini berguna bagi lapas dan badan pemasyarakatan terkait dalam meningkatkan sociability pada pecandu dengan pemberian bekal berupa training terapi komunikasi dan konseling hingga menekan perilaku hostility dan penyalahgunaan pada pecandu shabu (amphetamine) dan dapat kembali diterima di lingkungan masyarakat setelah menjalani masa tahanan. Kata Kunci: Sociability, Hostility, Pecandu Shabu (Amphetamine) Tahun 1990-an ekstasi, shabu, dan heroin, serta ganja memasuki pasaran Indonesia. Penyebaran terus berkembang bersifat aktif, masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah meluas dan sangat mengkhawatirkan, tidak hanya di perkotaan, tetapi juga telah sampai ke pedesaan. Indonesia saat ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor obat-obatan terlarang (Kemenkes, 2014). UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Bab 1 Pasal ayat 13 menjelaskan tentang pecandu narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada Narkotika, baik secara fisik maupun psikis. DSM-IV (2005) menjelaskan shabu sama dengan Amphetamine-type stimulants (ATS) mengacu pada sekelompok stimulan sintetis termasuk amphetamine, methamphetamine dan phenethylamines. Pecandu amphetamine dapat merasakan efek bersifat stimulan sentral dan perifer bersifat jangka panjang. Peredaran shabu di Indonesia merupakan angka tertinggi dibandingkan jenis narkotika lainnya. Kadarmanta (2010) menjelaskan fakta tentang shabu adalah zat stimulan yang dapat menimbulkan rangsangan bersifat bersemangat, gembira, berkhayal tinggi, percaya diri besar, dan mempunyai energi yang tak terbatas. Brecth & Herbeck (2013) mengemukakan bahwa pecandu metamphetamine atau dikenal sebagai shabu merasa bahwa menggunakan shabu dapat meningkatkan perilaku kekerasan, dan bersifat kriminal. Cohen, Doyle, Turner, Alper, & Skoner (2003) menjelaskan bahwa sociability adalah penentu kualitas dan kuantitas interaksi sosial. Sociability juga sebagai penentu kualitas mencari dan penerimaan orang lain. Degenhardt, Mathers, Guarinieri, Panda, Phillips, Strathdee, Tyndall, Wiessing, Wodak, dan Howard (2010) dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa efek yang muncul pada penggunaan amphetamine adalah peningkatan kemampuan bersosialisasi, menurunkan tekanan pada pikiran, keinginan untuk melarikan, dan peningkatan hasrat seksual. Individu juga menggunakan amphetamine tersebut sebagai doping atau penambah semangat dan produktivitas pada saat jam kerja yang sangat panjang. Ramirez dan Andreu (2005) mengemukakan bahwa hostility merupakan salah satu konstruk psikologi yang bersifat negatif yang berbentuk rasa permusuhan. Ramirez & Andreu menambahkan bahwa hostility merupakan penilaian yang buruk terhadap orang atau benda-benda, yang bahkan meliputi keinginan yang jelas untuk menyakiti atau merugikan. Individu yang memiliki hostility selalu menunjukkan pandangan yang negatif terhadap individu lain dan rasa benci secara menyeluruh. METODE Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sociability yaitu kemampuan individu dalam bermasyarakat, baik menjalin sosialisasi hingga membentuk sebuah ikatan bersifat sosial kepada masyarakat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hostility yaitu adalah perilaku individu dengan sengaja atau tidak sengaja memunculkan keinginan untuk menimbulkan bahaya atau melihat individu lain dirugikan seperti perilaku merugikan dan merusak hal disekitarnya. Populasi pada penelitian ini adalah narapidana Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa sebanyak 556 orang. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling sejumlah 94 orang. Data yang dikumpulkan menggunakan skala psikologi. Model skala yang digunakan ialah model skala Likert. Skala yang digunakan, yaitu: a. Skala Sociability. Validasi skala melalui analisis dari tiga professional judegement dengan penilaian didasarkan pada rasio validitas isi Aikens V. Daya diskriminasi aitem skala hostility setelah dilakukan uji coba menunjukkan bahwa dari aitem terdapat aitem skala yang gugur, sehingga tersisa 16 aitem yang tersisa. Koefisien korelasi aitem total dari aitem gugur < 0,2 dan aitem valid bergerak dari 0,205 sampai dengan 0,468 dengan nilai alpha sebesar 0,645. Nilai tersebut masuk dalam kategori reliabilitas kurang bagus. b. Skala hostility. Validasi skala melalui analisis dari tiga professional judegement dengan penilaian didasarkan pada rasio validitas isi Aikens V dari ketiga panel professional judgement. Daya diskriminasi aitem skala adaptasi skala hostiltiy setelah dilakukan uji coba menunjukkan bahwa dari 51 aitem terdapat 16 aitem skala yang gugur, sehingga tersisa 36 aitem yang tersisa. Koefisien korelasi aitem total dari aitem gugur < 0,25 dan aitem valid bergerak dari 0,258 sampai dengan 0,717 dengan nilai alpha sebesar 0,857. Nilai tersebut masuk dalam kategori reliabilitas bagus. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek dalam penelitian ini adalah narapidana pecandu shabu di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa sebanyak 94 orang. Usia Jumlah Presentase 15-25 24 25,53% 26-35 43 45,75% 36-45 18 19,15% 46-55 6 6,38% 56-65 2 2,12% 66-75 0 0% 75-85 1 1,06% Jumlah 94 100% Berdasarkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar narapidana yang menjadi subjek penelitian memiliki tingkat hostility yang rendah. Presentase (%) Kategori 61,70 % Rendah Hostility 38,30% Sedang 0 % Tinggi Hasil analisis deskriptif hostility diperoleh mean hipotetik sebesar 40. Jumlah subjek yang berada pada kategori kategori tinggi sebanyak 0 orang atau 0%, kategori sedang sebanyak 36 orang atau 38,30%, kategori rendah sebanyak 58 orang atau 61,70%. Pembentukan dan pemberlakuan norma dalam lapas secara tegas dan dipatuhi oleh para narapidana yang berlaku pula untuk narapidana yang melakukan kekerasan verbal dan non verbal selama menjalani masa tahanan merupakan faktor kontributor menurunnya perilaku hostility selama di lapas. Newcomb, Turner, & Converse (1985) mengemukakan bahwa penerimaan terhadap suatu peraturan, menurut peraturan mana para anggota kelompok diharapkan dapat menganggap sesuatu adalah baik dalam derajat tertentu atau sesuatu itu buruk dalam derajat itu pula. Norma-norma demikian dapat juga dianggap efektif karena sering menunjukkan perasaan yang bersangkutan, seperti kita merasa senang terhadap hal-hal yang kita nilai sebagai baik dan merasa tidak senang terhadap hal-hal yang kita anggap buruk. Milgram (1963) mengemukakan kepatuhan adalah mekanisme psikologis yang menghubungkan tindakan individu untuk tujuan tertentu. Ini adalah hubungan disposisional yang mengikat individu-individu dengan system yang bersifat otoritas. Fakta terbaru menunjukkan bahwa bagi banyak orang yang memiliki sifat kepatuhan tertanam kecenderungan perilaku impulsif dalam beretika, simpati dan perilaku moral. Berdasarkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar menunjukkan tingkat sociability yang tinggi. Presentase Kategori 0% Rendah Sociability 32,98% Sedang 67,02% Tinggi Hasil analisis deskriptif sociability diperoleh mean hipotetik adalah 40. Jumlah subjek berada pada pada kategori rendah adalah sebanyak 0 atau 0%, kategori sedang sebanyak 31 orang atau 32,98%, kategori tinggi adalah sebanyak 63 orang atau 67,02% Subjek dalam penelitian ini sebagian besar menunjukkan tingkat sociability yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat sociability pada narapidana berada pada tingkat yang tinggi. Hasil uji hipotesis pada penelitan ini sejalan dengan hasil penelitian Hampson, Tildeslye, Andrews, Luyckx & Mroczek (2007) yang dilakukan pada 1075 siswa di daerah Oregon menunjukkan hal yang menarik yaitu tidak adanya efek dari pertumbuhan negatif di sociability. Meskipun ada varian yang signifikan dalam pertumbuhan, perbedaan individu dalam perubahan sosialisasi tidak memprediksi penggunaan narkoba. Penelitian terakhir pada gangguan perilaku dari penarikan sosial menunjukkan bahwa anak-anak yang kurang berinteraksi sosial dan menarik diri memiliki kemungkinan untuk menggunakan narkoba lebih tinggi pada masa remaja. Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki sociability yang lebih tinggi dapat menjadi faktor munculnya resiko penggunaan narkoba yang lebih rendah. Hasil uji hipotesis pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kirkpatrick, Lee, Wardle, Jacob, dan Wit (2014) mengemukakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 65 responden yang pernah menggunakan amphetamine di Chicago, Amerika Serikat. Kedua variabel tersebut memiliki hubungan signifikan yaitu para pecandu shabu menunjukkan euforia dan perilaku sosialisasi yang meningkat, disisi lain terjadi penurunan daya peka terhadap kemungkinan munculnya emosi negatif dalam diri (marah, jengkel, dll. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Spearman Rank dengan bantuan SPSS 22 for Windows. Hasil analisis uji hipotesis dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Variabel r p Sociability*Hostility -0,514 0,000 Hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Rank bahwa nilai korelasi antara sociability dengan hostility sebesar -0,514 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,01). Nilai tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara sociability dengan hostility pada narapidana pecandu shabu (amphetamine) di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi sociability maka semakin rendah hostility pada narapidana pecandu shabu. Begitupun sebaliknya, semakin rendah sociability maka semakin tinggi hostility pada narapidana pecandu shabu (amphetamine) di Lapas Narkotika Klas IIA Makassar. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Tingkat sociability pada pecandu shabu (amphetamine) di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa berada pada kategori tinggi. 2. Tingkat hostility pada pecandu shabu (amphetamine) di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa berada pada kategori rendah. Terdapat hubungan negatif antara sociability dengan hostility pada narapidana pecandu shabu di Lapas Narkotika Klas IIa Sungguminasa. Semakin tinggi sociability pecandu shabu (amphetamine), maka semakin rendah hostility pada pecandu shabu (amphetamine). 1. Bagi pecandu shabu (amphetamine) Walaupun pemakaian shabu dapat meningkatkan perilaku bersosialisasi, akan tetapi di Indonesia melarang dan menghukum penyalahguna narkoba terutama jenis shabu (amphetamine). Para penyalahguna (pecandu) shabu akan dijerat hukuman pidana atas tindakannya. Jadi masih banyak cara untuk meningkatkan sociability individu dengan membuka diri dan ramah terhadap lingkungan sekitar. 2. Bagi Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIa Sungguminasa dan Badan Pemasyarakatan terkait. Selain memberikan terapi komunikasi dan konseling pada narapidana. Dapat juga memberikan bekal dan kemampuan bermasyarakat dan memperkuat secara mental dan emosional sebagai bekal setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan. 3. Bagi peneliti selanjutnya Hendaknya mengkaji beberapa faktor lain yang dapat berpengaruh atau berhubungan dengan sociability, seperti keramahan, gaya hubungan positif, maupun keterbukaan. Selain itu, dapat pula mengkaji beberapa faktor lain yang dapat berhubungan dengan hostility, seperti marah, jengkel, dan juga perasaan tidak berarti. 4. Bagi mahasiswa Hendaknya menjadi bahan pengembangan pemahaman mengenai dampak penyalahgunaan shabu sehingga menjadi bahan diskusi ilmiah yang dapat menghasilkan ide atau gagasan berbentuk gerakan lingkungan yang bebas penyalahgunaan shabu. 5. Bagi masyarakat Pemahaman tentang pola perilaku pecandu shabu dapat menjadikan bekal kepada masyarakat dalam meminimalisir penyalahgunaan shabu di lingkungan dengan meningkatkan komunikasi dan sosialisasi antar masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan shabu. DAFTAR RUJUKAN American Psychology Association. (2005). Diagnostic and statistical manual of mental disorders. 4th edition. Washington,D.C: APA. Brecth, M. L., & Herbeck, D. M. (2013). Methamphetaminee use and violent behavior: User perceptions and predictors. Journal of Drug Issues, 43(4), 468–482. Cohen, S., Doyle, W. J., Turner, R., Alper, C. M., & Skoner, D. P. (2003). Sociability and susceptibility to the common cold. Psychological Science Research Article, 14 (5), 389-395. Degenhardt, L., Mathers, B., Guarinieri, M., Panda, S., Phillips, B., Strathdee, S. A., Tyndall, M., Wiessing, L., Wondak, A.,… Howard, J. (2010). Methamphetaminee use and associated HIV: Implication for global policy and public health. International Journal of Drug Policy, 21, 347-358. Hampson, S. E., Tildeslye, E., Andrews, J. A., Luyckx, K., & Mroczek, D. K. (2007). The relation of change in hostility and sociability during childhood to substance use in mid adolescence. J Res Pers, 44(1), 103–114. Kadarmanta, A. (2010). Narkoba pembunuh karakter bangsa. Jakarta: Forum Media Utama. Kirkpatrick, M. G., Lee, G., Wardle, M. C., Jacob, S., & Wit, H. D. (2014). Effects of MDMA and intranasal oxytocin on social and emotional processing. Neuropsychopharmacology, (39), 1654-1633. Milgram, S. (1963). Behavioral study of obedience. Journal of Abnormal and Social Psychology, (67), 371-378. Newcomb, T. M., Turner, R. H., & Corverse, P. E. (1985). Psikologi sosial. Bandung: CV. Diponegoro. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Gambaran Umum Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Ramirez, J. M., & Andreu, J. M. (2005). Aggresion, and some related psychological constructs (anger, hostility, and impulsivity) Some comments from a research project. Artikel. Spain: Universidad Complutense Madrid. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. RELATIONS SOCIABILITY WITH HOSTILITY IN ADDICTS-AMPHET IN LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA SUNGGUMINASA Andi Muhammad Apriansyah ( andimuhammadapriansyah@gmail.com) Eva Meizara Puspita Dewi (evabasti@yahoo.com) Faradillah Firdaus (ilafirdaus@yahoo.com) Faculty of Psychology, University of Makassar Jl. AP Pettarani Makassar, 90222 ABSTRACT Andi Muhammad Apriansyah, Eva Meizara Puspita Dewi, and Faradillah Firdaus. (2017). Relationship sociability with Hostility the inmate amphet-addict in Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa . Thesis. Makassar. Psychology Programme, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Makassar. Amphet-addicts, which has sociability a highwill be re-accepted and useful in society. This study aims to determine the relationship of sociability with hostility at amphet addicted prisoners in Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa. Subjects of this study were 94 addicts were using technique accidental sampling. This study uses Spearman Test. The results of this study that there is a negative relationship between sociability and hostility (p = 0.000, r = -0.514). The implication of this research is useful for prisons and correctional agencies involved in improving sociability in addicts with the provision of training provision in the form of communication and counseling therapy to suppress the behavior of hostility and abuse in amphet-addicts and can be re-accepted in society after serving prison time. Keywords: Sociability, Hostility, Amphet-Addicts. 1990s ecstasy, methamphetamine, and heroin, and marijuana into the Indonesian market. Deployment continues to grow is active, the problem of drug abuse in Indonesia has been extensive and very alarming, not only in urban areas, but also to the countryside. Indonesia today not only as a transit and destination illicit trade in drug trafficking, but also has been a manufacturer and exporter of drugs (Ministry of Health, 2014). Law Number 35 Year 2009 on Narcotics Section 1 of Article paragraph 13 describes drug addicts are people who use or abuse of Narcotics and in a state of dependence on narcotics, both of physically and psychologically. DSM-IV (2005) describes the same methamphetamine with amphetamine-type stimulants (ATS) refers to a group of synthetic stimulants including amphetamine, methamphetamine and phenethylamines. amphet-addictamine can feel the effects of peripheral and central stimulants are long-term. Circulation of amphet in Indonesia is the highest compared to other types of narcotics. Kadarmanta (2010) explained the facts about methamphetamine is a stimulant that can cause stimulation are excited, happy, high fantasy, great confidence, and have boundless energy. Brecth & Herbeck (2013) suggested thataddicts methamphetamine otherwise known as amphet feel that using meth can increase violent behavior and criminal nature. Cohen, Doyle, Turner, Alper, & Skoner (2003) explains that sociability is a determinant of the quality and quantity of social interaction. Sociability as well as a determinant of quality looking for and acceptance of others. Degenhardt, Mathers, Guarinieri, Panda, Phillips, Strathdee, Tyndall, Wiessing, Wodak, and Howard (2010) of the research results indicate that the effect appears in the use of amphetamines is the improvement of social skills, reduce the pressure on the mind, the desire to escape, and increased sexual desire. Individuals also use amphetamine such as doping orpep and productivity during working hours are very long. Ramirez and Andreu (2005) suggested that the hostility is one of the negative psychological constructs in the form of hostility. Ramirez & Andreu adds that hostility is bad judgment on people or objects, which even includes a clear desire to hurt or harm. Individuals who have hostility always shown a negative view of other individuals and hatred thoroughly. METHOD The independent variable in this study is the sociability that is the ability of individuals in society, well established dissemination to form a bond of a social nature to thecommunity. The dependent variable in this study is the hostility that is the behavior of individuals intentionally or unintentionally led to a desire to cause harm or seeing other people injured as harmful and damaging behavior of things around him. The population in this study was Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa as many as 556 people. Sampling in this research using sampling accidental a number of 94 people. Data were collected using a scale of psychology. The model used is a model scalescale. Likert the scale is used, namely: a. scale. sociabilityValidation of scale through the analysis of three professional judegement with ratings based on content validity ratio VAikens.Discrimination power-item scale hostility after testing showed that there are item-item scale of the fall, so the remaining 16 item left. The correlation coefficient of item-item total fall of <0.2 and a valid item moves from 0.205 up to 0.468 withvalue an alpha of 0.645. The value in the category of reliability is not good. b. scale. HostilityValidation of scale through the analysis of three professional judegement with ratings based on content validityratio AikensV of the third panel of professionaljudgment.Discrimination power-item scalescale adaptation hostiltiy after testing showed that of the 51-item are 16-item scale that fall, so the remaining 36 item left. The correlation coefficient of item-item total fall of <0.25 and a valid item moves from 0.258 up to 0.717 withvalue an alpha of 0.857. The value in the category of great reliability. RESULTS AND DISCUSSION The subject of this research is in the meth addict inmates Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa as many as 94 people. Age Number of Percentage 15-25 24 25.53% 26-35 43 45.75% 36-45 18 19.15% 46-55 6 6.38% 56-65 2 2.12% 66-75 0 0% 75 -85 1 1.06% Total 94 100% Based on the descriptive analysis showed that most of the inmates are the subject of research haslevel of a lowhostility. Percentage (%) Category Low61.70% Hostility 38.30% Medium 0% High descriptive analysis results hostility obtained by the hypothetical mean of 40. The number of subjects who are at high class category from 0 votes or 0%, the categories were as many as 36 people or 38.30%, lower category as many as 58 people or 61.70%. The establishment and enforcement of norms in prison expressly and observed by inmates who apply to prisoners who are violent verbal and non-verbal for serving prison time is a contributing factor to the decrease hostility behavior during prison. Newcomb, Turner, and Converse (1985) suggested that the acceptance of a rule, according to which laws the group members are expected to assume something is good to some degree or something is bad in the degree anyway. Such norms can also be considered effective because it often indicates the feelings are concerned, as we feel good about the things that we value as well and was not happy about the things that we think are bad. Milgram (1963) suggested adherence is the psychological mechanism that links individual action for a particular purpose. It is a dispositional relationship that binds individuals to the system that is authority. The latest facts show that for many people who have properties embedded compliance impulsive tendencies in ethical behavior, sympathy and moral behavior. Based on the results of the descriptive analysis shows that most indicatedlevel of a highsociability. Percentage Category 0% Low sociability 32.98% Average 67.02% High descriptive analysis results sociability obtained by the hypothetical mean is 40. The number of subjects that are in the low category is 0 or 0%, the categories were as many as 31 people or 32.98% , high category are as many as 63 people or 67.02% subjects in this study mostly showedlevel of sociability. a high It shows that the level of sociability on the inmates are at a high level. The results of this research hypothesis testing in line with the results of the study Hampson, Tildeslye, Andrews, Luyckx and Mroczek (2007) conducted in 1075 in the area of Oregon student showed an interesting thing that is not the effect of negative growth in sociability. Although there is a significant variance in growth, individual differences in socialization did not predict changes in drug use. The latest research on disorders of social withdrawal behavior indicates that children who lack social interaction and withdraw have the possibility of higher drug use in adolescence. In contrast, this study shows that individuals who have sociability highercan be a risk factor advent of drug use is lower. Hypothesis test results in this study are consistent with the results of research conducted by Kirkpatrick, Lee, Wardle, Jacob, and Wit (2014) suggested based on the results of research conducted on 65 respondents who had used amphetamine in Chicago, USA. Both of these variables has a significant relationship that abusers of methamphetamine shows euphoria and behavioral socialization increases, on the other hand a decrease in power sensitive to the possible emergence of negative emotions in ourselves (anger, annoyance, etc. Testing the hypothesis in this study using techniquescorrelation Spearman Rank with the help SPSS 22 forWindows.The results of the analysis of hypothesis testing can be seen in the table below: variable r p sociability*hostility -0.514 0.000 hypothesis test results usingcorrelation Spearman Rank that the correlation between sociability with the hostility of -0.514 with a significance value of 0.000 (p <0.01). these values indicate that there is a negative relationship between sociability with hostility to prisoners addicted to amphet-meth on Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa. The results show that the higher sociability the lower hostility to prisoners addicted to methamphetamine. Likewise seb aliknya, the lower sociability, the higher hostility to prisoners addicted to meth (amphetamine) on Narcotics Prison Class IIA Makassar. CONCLUSIONS AND RECOMMENDATIONS Based on hypothesis testing and discussion of the research, the conclusions of this study are: 1. The level of sociability in amphet-addicts on Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa at the high category. 2. The level of hostility on amphet-addicts on Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa are in the low category. There is a negative relationship between sociability with hostility to prisoners meth addicts in Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa. The higher sociability amphet-addicts, the lower the hostility in methamphetamine addicts(amphetamine). 1. For those addicted to meth(amphetamine) Although the use of methamphetamine can improve social behavior, but in Indonesia prohibit and punish drug abusers, especially the type of meth(amphetamine).The abusers (addicts) of methamphetamine would face criminal penalties for their actions. So there are many ways to increase the sociability of individuals by being open and friendly to the environment. 2. For Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Narkotika Sungguminasa and related Correctional Agency. In addition to providing communication therapy and counseling to inmates. Can also provide supplies and the ability of society and strengthen the mental and emotional as stock after getting out of jail. 3. For further research It should examine several other factors that can affect or relate to sociability, such as friendliness, positive relationship styles, and openness. In addition, it can also examine several other factors that may be associated with hostility,such as anger, resentment, and feelings mean. 4. for students It should be a matter developing an understanding about the impact of methamphetamine abuse so that a scientific discussion to generate ideas or ideas shaped movement of methamphetamine abuse-free environment. 5. For the public understanding of the behavior patterns of methamphetamine addicts can make provision to the public in minimizing the abuse of methamphetamine in the environment by improving communication and socialization among the public about the dangers of meth abuse. REFERENCES American Psychology Association. (2005). Diagnostic and statistical manual of mental disorders. 4th edition.Washington, DC: APA. Brecth, ML, & Herbeck, DM (2013). Methamphetaminee use and violent behavior: Users perceptions and predictors. Journal of Drug Issues, 43(4), 468-482. Cohen, S., Doyle, WJ, Turner, R., Alper, CM, & Skoner, DP (2003). Sociability and susceptibility to the common cold. Psychological Science Research Article, 14 (5), 389-395. Degenhardt, L., Mathers, B., Guarinieri, M., Panda, S., Phillips, B., Strathdee, SA, Tyndall, M., Wiessing, L., Wondak, A., ... Howard, J. ( 2010). Methamphetaminee use and associated HIV: Implication for global policy and public health. International Journal of Drug Policy, 21, 347-358. Hampson, SE, Tildeslye, E., Andrews, JA, Luyckx, K., & Mroczek, DK (2007). The relation of change in hostility and sociability during childhood to substance use in mid adolescence. J Res Pers, 44(1), 103-114. Kadarmanta, A. (2010). Drugs killer character of thenation.Jakarta: Top Media Forum. Kirkpatrick, MG, Lee, G., Wardle, MC, Jacob, S., & Wit, HD (2014). Effects of MDMA and intranasal oxytocin on social and emotional processing. Neuropsychopharmacology,(39), 1654-1633. Milgram, S. (1963). Behavioral study of obedience. Journal of Abnormal and Social Psychology, (67), 371-378. Newcomb, TM, Turner, RH, & Corverse, PE (1985). Socialpsychology.Bandung: PT. Diponegoro. The Ministry of Health of the Republic of Indonesia. (2014). Overview of Drug Abuse inIndonesia.Jakarta: Data and Information Center of the Ministry of Health. Ramirez, JM, & Andreu, JM (2005). Aggresion, and some related psychological constructs (anger, hostility, and impulsivity) Some comments from a research project. Article.Spain: Universidad Complutense of Madrid. Law of the Republic of Indonesia Number 35 Year 2009 on Narcotics.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: PSIKOLOGI
Divisions: FAKULTAS PSIKOLOGI
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 28 Sep 2017 06:26
Last Modified: 28 Sep 2017 06:26
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/2885

Actions (login required)

View Item View Item