PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATTIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SUMANNA KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR

MAULIDNAWATI, ABRINA (2014) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATTIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SUMANNA KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR. S1 thesis, UNIVESITAS NEGERI MAKASSAR.

[img] Text
ABRINA MAULIDNAWATI JUMRAH 2015.doc

Download (274kB)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATTIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SUMANNA KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR ABRINA MAULIDNAWATI JUMRAH ABSTRAK ABRINA MAULIDNAWATI. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think PairShare (TPS) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar . (dibimbing oleh Prof. Dr. Suradi Tahmir, M.S. dan Dr. Herman, M.Si). Penelitian ini mengkaji tentang peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Sahare (TPS) pada siswa kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Permasalahan yang dikaji yaitu: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) Pada Pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar? (2) Bagaimanakah hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)?(3) Apakah hasil belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar dapat ditingkatkan dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)? Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar (2) Untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) (3) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahap, yakni: (1) Perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi; dan (4) refleksi. Subyek penelitian adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri Sumanna yang berjumlah 24 orang penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi untuk guru dan siswa, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif Deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pembelajaran IPS di Kelas V Sd Negeri Sumanna dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair share (TPS)dimana siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran sehingga konsep materi lebih mudah untuk dipahami,(2) hasil belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri sumanna pada siklus pertama, nilai rata- ratanya mencapai 71,54 dalam kualifikasi baik. Dari 24 siswa yang telah berhasil mencapai batas ketuntasan belajar sebanyak 16 siswa (67 %) sedangkan siswa yang belum tuntas belajar adalah 8 siswa (33%). Hasil tes siklus pada siklus kedua, rata- ratanya mencapai 79.08 % dan berada dalam kategori sangat baik. Dari 24 orang siswa, semuanya telah berhasil mencapai batas ketuntasan belajar yaitu (100 %) ,(3) hasil belajar IPS Siswa kelas V dapat ditingkatkan dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) telah meningkatkan hasil belajar IPS khususnya pada tema Peristiwa Sekitar Proklamasi kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif tipe Example Non Examples dan Tes Hasil Belajar IPS PENDAHULUAN Sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam pembangunan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini mengandung pengertian yang luas bahwa bangsa yang cerdas dan berkompetensi, yang ditandai dengan adanya kemampuan berfikir, kepribadian yang bagus dan memiliki keterampilan menjadi tujuan dari pembangunan tersebut. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa kemudian ditegaskan melalui berbagai kebijakan. Undang-Undang RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampian yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa. Sejalan dengan itu, Undang-undang no. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, makin mempertegas keseriusan pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan nasional khususnya dalam bidang pendidikan. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat mendasar dan penting bagi perkembangan suatu bangsa. Perbaikan dan penyesuaian kurikulum nasional terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Dinamika pendidikan dewasa ini ditandai dengan suatu pembaharuan dan transformasi pemikiran Sesuai konteks pendidikan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan proses pembelajaran yang menghasilkan siswa yang mampu berpikir kritis, analitis,dan kreatif. Indikator keberhasilan IPS ditandai dengan bertambahnya pengetahuan, keterampilan dan perubahan perilaku siswa, serta tercapainya ketuntasan belajar siswa sehingga siswa mampu mengatasi masalahnya sendiri dan dapat menjalin hubungan antarsesama manusia dan lingkungannya Mata pelajaran IPS di sekolah dasar merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran ilmu-ilmu sosial. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan kemampuan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum bahwa salah satu tujuan pengajaran IPS di SD adalah memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Berangkat dari komponen-komponen tujuan pembelajaran IPS sekolah dasar tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa tugas guru bukan hanya sekedar menyampaikan informasi, mentransfer pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa atau cenderung mendorong siswa untuk sekedar menguasai materi pelajaran, namun pembelajaran IPS harus diarahkan untuk menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi setiap peserta didik, berpikir logis dan kritis, berkomunikasi, bekerjasama dalam memecahkan sebuah masalah dan memiliki keterampilan dalam kehidupan sosial dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial, agar nantinya hasil belajar siswa dapat meningkat. Siswa harus dapat bekerjasama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran maka disetiap pembelajaran harus digunakan teknik pembelajaran yang tepat. Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara peneliti dengan guru Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar di ruangan Kelas V, terungkap bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS tergolong rendah dengan nilai rata-rata 67,66. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di Kelas kurang efektif dan efisien, diantaranya dalam prose pembelajaran IPS guru masih menggunakan metode pembelajaran yang bersifat konvensional dan kurang bervariasi, sehingga siswa kurang berminat dan termotivasi mengikuti proses pembelajaran IPS hal ini ditandai dengan siswa tidak fokus dan lebih banyak bermain dalam proses pembelajaran, kemudian guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga sebagian besar siswa pasif dan pembelajaran hanya didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi saja. Perilaku siswa tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil belajar IPS. Hal ini terbukti masih rendahnya hasil belajar IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Dari 24 jumlah siswa kelas V, terdapat 13 siswa atau 54 % yang memperoleh nilai standar dan 11 siswa atau 46% yang memperoleh nilai dibawah standar dengan Kriteria Ketuntasan Minimal 70 (KKM) untuk mata pelajaran IPS yang telah ditetapkan. Salah satu upaya yang dikembangkan oleh peneliti untuk menunjang peningkatan hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu dengan siswa dapat berpikir, berpasangan dan berbagi atau bekerja sama dengan siswa lain. Model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) merupakan tipe yang sederhana dengan banyak keuntungan karena dapat meningkatkan partisipasi siswa dan pembentukan pengetahuan oleh siswa. Dengan menggunakan suatu prosedur, para siswa belajar dari siswa yang lain dan berusaha untuk mengeluarkan pendapatnya dalam situasi non kompetisi sebelum mengungkapkannya didepan kelas. Anita Lie (Daryanto 2014: 38) mengungkapkan: Dengan model pembelajaran klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, Model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Hal tersebut ditegaskan Kembali oleh lyman (Daryanto, 2014: 38) Model Pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) membantu para siswa untuk mengembangkan pemahaman konsep dan materi pembelajaran, mengembangkan kemampuan untuk berbagi informasi dan menarik kesimpulan, serta mengembangkan kemampuan untuk mempertimbangkan nilai-nilai dari suatu pelajaran. Fogarty dan Robin (1996:1) memperkuat pendapat Lyman menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) memilki beberapa keuntungan sebagai berikut : (a) mudah dilaksanakan dalam kelas yang besar; (b) memberikan waktu kepada siswa untuk merefleksikan isi materi pelajaran; (c) memberikan waktu kepada siswa untuk melatih mengeluarkan pendapat sebelum berbagi dalam kelompok kecil atau kelas secara keseluruhan; (d) meningkatkan kemampuan penyimpanan jangka panjang dan isi materi pelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Koopertaif Think Pair Share (TPS) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar”. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) Pada Pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar? 2. Bagaimanakah hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar setelah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)? 3. Apakah hasil belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar dapat ditingkatkan dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)? TUJUAN PENELITIAN Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menjawab masalah yang telah dikemukakan di atas. Secara eksplisit tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. 2. Untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Setelah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). 3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS). MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoretis a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pendidikan khususnya pada pembelajaran IPS di SD, serta dapat dijadikan acuan dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Manfaat Praktis a. Bagi sekolah Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam menerapkan pembelajaran yang mengoptimalkan potensi-potensi alamiah siswa, seperti rasa ingin tahu, kerjasama, kemampuan berkomunikasi dan sebagainya. b. Bagi guru Sebagai masukan atau pertimbangan bagi guru dalam menentukan alternatif pembelajaran, khususnya untuk materi pembelajaran IPS. c. Bagi siswa Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Examples diharapkan siswa semakin menyukai mata pelajaran IPS, sehingga hasil belajar siswa semakin baik dan mengalami perubahan pada diri siswa. KAJIAN TEORI 1. Hasil Belajar IPS a. .Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu pelajaran inti yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan terutama di Sekolah Dasar. IPS sebagai imu sosial mengajarkan manusia dalam bersosialisasi atau berinteraksi, baik dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitar. Dalam hal ini Suma Atmadja (Gunawan, 2011: 19), mengemukakan bahwa “IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya”. Sedangkan Susanto (2013: 137) menyatakan bahwa “IPS adalah ilmu yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humanioraserta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik, khususnya ditingkat dasa dan menengah”. Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, psikologi budaya, sejarah, maupun politik. Menurut Trianto (2013: 171) bahwa: Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu pegetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Menurut Sardjiyo., Didih, S., & Ischak. (2009: 126) mengemukakan bahwa pengertian “IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan”. Sementara tim penyusun Modul Pendalaman Materi PGSD FIP UNM (2012: 61) mengemukakan bahwa IPS adalah mata pelajaran yang materinya bersumber dari ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan dan diajarkan secara pedagogik dan psikologis untuk tujuan pendidikan di SD”. Berdasarkan beberapa pengertian IPS di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan sosial adalah perpaduan dari berbagai ilmu-ilmu sosial yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya b. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Mata pelajaran IPS di sekolah dasar merupakan program pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat sekitarnya. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan dengan baik. Trianto (2013: 176) mengemukakan bahwa “tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjdi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat” Sejalan dngan itu Susanto (2013: 145) menjelaskan bahwa: Tujuan utama IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjdi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Menurut Sardjiyo dkk. (2009: 128) mengemukakan tujuan pendidikan IPS di SD adalah sebagai berikut: 1) Membekali anak didik dengan penetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat. 2) Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. 3) Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuan dan bidang keahlian.4) Membekali anak didik dengan kesadaran , sikap mental positif dan keterampilan terhadap pemanfaatan terhadap lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupantersebut.5) Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mengenalkan berbagai konsep terhadap anak didik untuk mengembangkan kemampuannya agar dapat menghadapi berbagai masalah sosial yang terjadi baik dalam dirinnya maupun masyarakat. c. Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009: 35) “ Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya” Sejalan dengan itu, Slameto (2010: 2) mengemukakan bahwa: “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorng untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang sebagai hasi dari interaksi dengan lingkungannya. Sasaran utama dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Apabila proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka hasil belajar juga akan baik. Hasil belajar dapat dijadikan tolak ukur kualitas suatu pembelajaran. Sasaran utama dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Menurut Sudjana (2008: 22),“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Sedangkan Kunandar (2013: 62) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar”. Selanjutnya Susanto (2013: 5), mengemukakan bahwa “hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Romiszwoski (Abdurrahman, 2012: 26) “hasil belajar dapat dikelompokkan kedalam dua macam saja, yaitu pengetahuan dan keterampilan”. Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta, prosedur, konsep dan prinsip keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu keterampilan untuk berfikir atau keterampilan kognitif, keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, keterampilan bereaksi atau bersikap, dan keterampilan bersikap. Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengajar, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. 2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Thin Pair Share (TPS) a. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Daryanto (2014: 35) Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan mempertahankan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Menurut Rusman (2011: 202) bahwa: “pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen”. Senada dengan pendapat tersebut, Sugiyanto (2010: 37) menjelaskan bahwa pengertian pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan pembelajaran yang menuntut adanya kerjasama antar siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. b. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran lain. Perbedaan dapat dilihat dari proses pembelajarannya yang lebih menekankan pada proses kerjasama dalam kelompok. Isjoni (2011) menyatakan bahwa “ ada lima unsur yang membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok yaitu: (1) setiap anggota memiliki peran, (2) terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, (3) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman kelompoknya, (4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan”. Hal ini senada dengan pendapat Rusman (2011: 207) menjelaskan bahwa ”Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran secara tim, (2) didasarkan pada manajemen kooperatif, (3) kemauan untuk bekerjasama, dan (4) keterampilan bekerjasama”. Menurut Lie (2010: 31) bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah adanya unsur-unsur yang saling terkait, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, (5) evaluasi proses kelompok. Sedangkan menurut Salvin (2009: 10) ada tiga konsep yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif, yaitu penghargaan kelompok, pertanggung jawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif, yaitu:1) Adanya kerjasama antar anggota kelompok.2)Terjadinya hubungan timbal balik antar anggota kelompok.3) Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama. Setiap anggota kelompok mempunyai peluang untuk berhasil. c. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan pertama kali oleh Profesor Frank Lyman di University Of Maryland pada 1985 dan diadopsi oleh banyak penulis di bidang pembelajaran kooperatif pada tahun-tahun selanjutnya. Strategi ini memperkenalkan gagasan tentang waktu ’tunggu atau berpikir’ (Wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif yang saat ini menjadi salah satu faktor ampuh dalam meningkatkan respon siswa terhadap pertanyaaan. Strategi Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa .Miftahul Huda (2014: 206) Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperaif tipe Think Pair Share (TPS) adalah suatu model pembelajaran yang yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain yang terdiri dari beberapa tahapan. a. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) menurut Miftahul Huda (2013: 206) adalah sebagai berikut: 1) Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 2 anggota/siswa 2) Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok. 3) Masing-masing anggota memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri-sendiri terlebih dahulu 4) Kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan. Setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya.5) Kedua pasangan lalu bertemu kembali dalam kelompoknya masing-masing untuk berbagi hasil diskusinya. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, menurut Fadholi (2009: 1) bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) memiliki kelebihan dan kekurangan , yaitu: Kelebihannya sebagai berikut: 1) Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan. 2) Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah. 3) Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang. 4) Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar. 5) Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Secara sederhana, Arikunto (2010: 58) mengemukakan bahwa “Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan (Action Research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya”. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi, yang selanjutnya tahap-tahap tersebut dirangkai dalam satu atau lebih siklus kegiatan. 2. Lokasi, Waktu dan Subjek Penelitian Penelitianm ini dilaksanakan di SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Jumlah siswa sebanyak 24 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. 3. Fokus Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna, hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. 2. Hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar 4 Definisi Operasional Adapun definisi operasional dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Model pembelajaran kooperatif tipe Think pair Share (TPS) adalah suatu model pembelajaran yang yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu berfikir,berbagi dan berpasangan. 2. Hasil belajar IPS adalah kemampuan yang dimiliki atau diperoleh siswa dalam mata pelajaran IPS setelah mengikuti proses pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang diukur melalui tes tertulis. 5 Prosedur Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui rancangan PTK yang didasarkan pada model Arikunto (2010:16 dengan tiap siklus mencakup 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. 6 Instrumen Penelitian Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar observasi, tes hasil belajar dan dokumentasi. Instrumen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut 1. Lembar Observasi Lembar Observasi digunakan untuk mengamati langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan seluruh aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan kelompoknya yang dibagi secara heterogen 2. Tes Hasil Belajar Hasil belajar merupakan pengumpulan data dengan menggunakan soal-soal. Tes diberikan oleh guru kepada siswa sebagai alat untuk mengetahui hasil belajar IPS setelah diterapkannya sebagai model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Tes diberikan pada setiap akhir siklus yang terdiri dari tes siklus I dan tes siklus II atau siklus ke-n berupa soal-soal dalam bentuk isian dan uraian 3. Dokumentasi Teknik ini dilakukan melalui pengumpulan data tertulis dari sekolah mengenai nama dan jumlah siswa kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar, KKM mata pelajaran IPS, serta hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Sumanna semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015 7. Teknik Analisis Data 1. Analisis Aktivitas Mengajar Guru dan Belajar Siswa Analisis hasil observasi terhadap aktivitas mengajar guru dan belajar siswa dilakukan dengan menghitung frekuensi rata-rata dan presentasi tiap aspek pada setiap pertemuan. Selanjutnya aktivitas dalam pembelajaran tersebut merupakan rata-rata aktivitas mengajar guru dan belajar siswa pada setiap siklus. 2. Analisis Hasil Belajar IPS Kriteria yang digunakan untuk menetukan pencapaian hasil belajar IPS dalam penelitian ini adalah menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Seorang siswa dianggap berhasil dalam belajar apabila memperoleh nilai minimal sama dengan KKM yaitu 70. Secara klasikal dikatakan tuntas belajar apabila 85% siswa mencapai skor minimal sama dengan KKM. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian Penyajian Data Siklus I a. Tahap Perencanaan Rencana tindakan pada siklus I ini merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap pembelajaran IPS pada siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini mengambil Kompetensi dasar 2.3 yaitu menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan dengan materi Peristiwa sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kompetensi dasar dan materi tersebut diambil dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas V. Perangkat pembelajaran disusun oleh peneliti dan divalidasi oleh validator ahli, yaitu berupa: 1) rencana pelaksanaan pembelajaran, 2) materi pembelajaran, 3)lembar kerja siswa, dan 4) tes hasil belajar. Pada perencanaan ini, guru kelas V bertindak sebagai pemberi tindakan dalam proses pembelajaran, sedangkan kegiatan pengamatan/observasi dilakukan oleh peneliti. b. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan siklus 1 dilaksanakan selama 3 kali pertemuan, dengan 2 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali diadakan untuk tes hasil belajar siklus I c. Tahap Pengamatan Hasil observasi siklus pertama terhadap proses pembelajaran IPS melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah proses pelaksanaan dan setelah tindakan. Fokus pengamatan dalam penelitian ini yaitu aktifitas mengajar guru dan belajar siswa. hasil observasi tindakan siklus I pertemuan 1, aktivitas mengajar guru dikategorikan kurang terlihat dari persentase pencapaiannya . Sedangkan aktivitas mengajar guru pada pertemuan 2 dikategorikan cukup dengan melihat persentase pencapaiannya yang mengalami peningkatan menjadi 62,96 % Berdasarkan hasil observasi tersebut,maka aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran IPS pada pertemuan 1 dikategorikan kurang. Hal ini terlihat pada presentase pencapaian aktivitas belajar siswa hanya 47,61 % dan pertemuan 2 persentase pencapaiannya meningkat menjadi . Aktivitas belajar siswa pada pertemuan 2 dikategorikan cukup. Melihat persentase pencapaian aktivitas belajar siswa yang masih rendah, maka aktivitas belajar siswa masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu data observasi siswa tersebut akan dianalisis sehingga akan menjadi bahan refleksi untuk pelaksanaan siklus II. d. Refleksi Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama pelaksanaan siklus 1, siswa belum mencapai indikator keberhasilan secara klasikal yang telah dirumuskan sebelumnya. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dan diperbaiki untuk rencana tindakan pada siklus berikutnya, yaitu Kekurangan dari aspek siswa a) Masih ada siswa yang kurang termotivasi dalam belajar dan bekerjasama secara berkolompok bahkan bercerita dengan temannya walaupun ditegur karena tidak memperhatikan pelajaran b) Dalam proses pembelajaran masih banyak siswa yang kurang menyerap materi pelajaran. c) Pada saat pembagian kelompok suasana kelas sangat ribut dan ramai. Hal ini dapat terlihat siswa mula-mula kurang bisa menerima pembagian kelompok secara heterogen. d) Pada saat berpasangan masih banyak Siswa yang ragu dan kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapatnya kepada siswa lain terutama siswa yang memiliki kemampuan rendah. e) Dalam proses pembelajaran masih banyak siswa yang melalakukan aktivitas lain diluar pembelajaran.hal ini bisa terlihat pada saat siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya. Kekuarangan dari aspek guru a) Guru belum menjelaskan materi secara sistematis sehingga siswa kurang menyerap materi pelajaran b) Dalam mengerjakan LKS Secara mandiri guru kurang membimbing siswa c) Guru kurang membimbing seluruh kelompok dalam kegiatan diskusi secara maksimal baik dalam saat siswa berpasangan maupun berbagi dengan keseluruhan kelas. d) Guru tidak menunjuk beberapa siswa untuk memberikan tanggapan pada saat presentase sehingga diskusi kurang aktif. e) Waktu pembelajaran tidak sesuai dengan yang direncanakan dikarenakan guru kurang mampu mengelola waktu secara efisien. Berdasarkan uraian tahap refleksi, maka tindak lanjut yang dapt dilakukan terhadap perbaikan pembelajaran siklus 1, yaitu: 1) Pemberian motivasi dan perhatian agar siswa dapat berperan secara aktif melakukan kerjasama kelompok agar lebih memahami materi IPS dan siswa lebih berani mengemukakan pendapat . 2) Menjelaskan materi secara sistematis agar lebih mudah dipahami dan diserap oleh siswa. 3) Membimbing siswa /kelompok dalam berdiskusi agar diskusi lebih terarah. 4) Guru harus memperhatikan pengelolaan kelas agar siswa tidak mengerjakan aktivitas lain dalam proses pembelajaran. 5) Menunjuk bebrerapa siswa untuk memberikan tanggapan pada saat presentasi kelompok agar diskusi lebih hidup dan dapat menyamakan persepsi antara siswa yang satu dan yang lainnya. 6) Guru hendaknya dapat memperhatikan dan mengelolah waktu secara efisien, agar di dalam melaksanakan keseluruhan rencana pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. Kesimpulan yang diperoleh dari masalah-masalah yang ditemukan dalam siklus I ini, peneliti berusaha untuk mengadakan perbaikan dengan harapan agar siklus ke II jauh lebih baik daripada siklus sebelumnya. II. Penyajian Data Siklus II a. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan ini merupakan perbaikan dari hasil refleksi yang kurang pada siklus sebelumnya. Siklus kedua ini dilaksanakan dengan langkah- langkah perbaikan dengan mengidentifikasi dan merumuskan masalah berdasarkan hasil analisa refleksi siklus pertama seperti : a) Penyusunan RPP IPS siswa kelas IV SD Negeri Sumanna melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share harus sesuai dengan alokasi waktu yang digunakan serta mempersiapkan sub tema lanjutan dari siklus sebelumnya. b) Menyusun format observasi guru dan observasi sikap siswa c) Menyusun LKS dan menyiapkan sumber belajar d) Membuat tes penilaian hasil belajar IPS berdasarkan materi yang diajarkan melalui pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share b. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan pada siklus kedua sama dengan siklus sebelumnya dan mengacu pada kekurangan yang terjadi. Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilaksanakan selama 3 kali pertemuan, 2 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali untuk tes siklus. c. Tahap Pengamatan Tahap pengamatan ini peneliti mengadakan pengamatan (observasi) terhadap pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil observasi siklus kedua terhadap proses pembelajaran IPS melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada pelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar. e. Tahap refleksi Peneliti selaku observer (pengamat) bersama guru kelas mendiskusikan hasil pengamatan pada siklus II adalah sebagai berikut : 1) Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik sesuai dengan langkah-langkah model-model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) 2) Semua siswa telah termotivasi dalam belajar dan bekerja sama secara berkelompok. Hampir semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mampu berdikusi dengan baik. 3) Pada saat mengerjakan LKS atau tugas yang diberikan guru dalam kelompok suasana kelas tampak lebih tenang. 4) Waktu pembelajaran berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Guru sudah mampu mengelola waktu secara efisien. Menyikapi hasil refleksi siklus II dan setelah mengamati berbagai kekurangan dan kemajuan belajar mengajar bahwa sebagian besar kekurangan yang ditemukan pada siklus I dari 67 % mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 100 % sehingga dapat dikatakan penelitian ini berhasil karena dapat meningktkan hasil belajar dalam mata pelajaran IPS setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS). PEMBAHASAN Berdasarkan paparan data yang dikemukakan sebelumnya, maka fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah : 1. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dipilih karena dipandang dapat membuat Siswa lebih aktif dalam pembelajaran sehingga siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang diajarkan. Selain itu siswa juga dapat mngembangkan keterampilan berfikir dan dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya. Pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) siswa di tuntut lebih aktif dalam pembelajaran. Selama kegiatan belajar berlangsung, sebagian besar aktivitas yang ada di dalam kelas dilaksanakan oleh siswa, sehingga konsep materi akan lebih muda untuk dipahami. Daryanto (2013: 38 ) Bahwa. Model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) merupakan tipe pembelajaran yang sederhana dengan banyk keuntungan karena dapat meningkatkan partisipasi siswa dan pembentukan pengetahuan oleh siswa.dengan menggunakan suatu prosedur, para siswa belajar dari siswa yang lain dan berusaha untuk mengeluarkan pendapatnya dalam situasi non kompetisi sebelum mengungkapkannya didepan kelas. Oleh karena itu, model pembelajaran koopertaif tipe Think Pair Share (TPS) memungkinkan untuk dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pembelajaran IPS. 2. Hasil Belajar IPS Siswa Setelah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share di kelas V SD Negeri Sumanna Jecamatan Tamalate Kota Makassa dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa di kelas dengan materi “Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan “. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai ketuntasa belajar IPS yang dicapai siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dengan ketuntasan sebesar 100% lebih tinggi dibandingkan hasil ketuntasan belajar IPS yang dicapai pada semester 1 sebelum dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sebesar 67,66%. Temuan peneliti ini sesuai dengan kajian teori yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson (Trianto,2010:57) bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun kelompok. Dari paparan diatas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat memberikan konstribusi positif dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nur Afni Ma'mun Hidayat (2013), dan Nur Afni (2012) yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa, baik secara individual maupun secara klasikal. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, analisis data, dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan sebagai berikut: 1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share di kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar dilaksanakan sesuai dengan langkah- langkah pemebelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dengan tahapan yaitu berpikir, berbagi dan berpasangan. Dimana siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. 2. Hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar pada siklus I persentase ketuntasan berada pada kategori sedang yaitu 67 % dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal berada pada kategori sangat tinggi yaitu 100 %. 3. Hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Sumanna Kecamatan Tamalate Kota Makassar dapat ditingkatakan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pada semester ganjil nilai ketuntasan Belajar IPS yaitu 54 % dan setelah diterapakan model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dapat meningkat mencapai ketuntasan 100 % 2. Saran Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka saran yang dapat dikemukakan oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1. Penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat dipertahankan dan dikembangkan dengan baik sebagai model pembelajaran yang menarik untuk siswa. Sehingga siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran IPS. Dalam penggunaan model TPS ini guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran TPS. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran model Think Pair Share (TPS) sesuai yang ingin dicapai, maka disarankan kepada guru sebaiknya melakukan refleksi dan memberikan motivasi agar dalam proses pembelajaran siswa dapat lebih meningkat pada kategori baik dan sangat baik. 3. Dalam penggunaan model Think Pair Share (TPS) harus terus dikembangkan, maka disarankan kepada guru untuk lebih meningkatkan pemberian dorongan dan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ide atau gagasan serta bekerja sama dalam kelompok. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, M. 2012. Anak Berkesulitan Belajar Teori Diagnostik, dan Remidiasinya. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S, Suhardjono.,& Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Aunurahman, 2009 .Belajar dan Pembelajaran. Pontiank : Alfabeta. Daryanto. 2014.Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:Gava Media. Fadholi, A. 2009. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Think Pair Share, (Online), (http:// ariffadholi. blogspot. Com /2009/10/kelebihan- kekurangan -tps.html, Diakses 20 Oktober 2014). Gunawan, R.2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Alfabeta. Haryanto. 2011.Pengertian Model Pembelajaran ,(Online), (https:// docs. google. com/document/d/1AW1O6YHKE5juSKxbg0bumd7DGqPYz_liCycxUiyN0/edit?pli=). Diakses 5 Oktober 2014 Huda, M.2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Celeban Timur. Ibrahim, M.,dkk.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa Press Isjoni.2011.Cooperative Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). Bandung: Alfabeta. Kunandar. 2013. Penilaian Autentik ( Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013) Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: PT Grafindo Persada. Lie A.2010.Cooperative Learning : Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo. Nurhadi. 2003. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: Grasindo. Rusman.2011.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Salam, S. & Deri B. 2012. Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi. Makassar:PPs UNM & Badan Penerbit UNM. Sardjiyo., Didih.,& Ischak .2009. Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Slameto. 2010.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Slavin, E.R.2009. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktek. Bandung: Nusa Media. Syah, Muibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana, N. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono.2010.Model-Model Pembelajaran Inovatif.Sukarta: Yuma Pustaka. Suprijono, A.2009.Cooperative Learning (Teori& Aplikasi PAIKEM). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Susanto, A.2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di SD. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Tim Penyusunan Modul Pendalaman Materi PGSD FIP UNM. 2012. Pendalaman Materi SD. Makassar : Penyelenggaraan Sertifikasi Guru Rayon 124 UNM Tim Bina Karya Guru. 2011. Ilmu Pengetahuan SosialUntuk SD/MI Kelas V, Jawa Timur: Masmedia Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorentasi Kontruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Kencana Prenada Media Goup. 2013.Model Pembelajaran Terpadu Konsep Strategis, dan Implementasinya dalam KTSP. Jakarta: PT Bumi Aksara. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bagian Penjelasan Tentang Sistem Pendidikan Nasional.2003.Jakarta: Kemendikbud. Vistanisti. 2013. Pengertian Metode. (Online), http://Vistanisti-meblog. Blogspot.com/2013/05/pengertian -metode.html,Diakses 25 Oktober 2014. Yaba & Nonci, J. 2010. Materi Pendidikan IPS SD di Kelas Tinggi. Makassar: Universitas Negeri Makassar Yuliati R. & Munajad A.2008. Ilmu Pengetahuan Sosial SD dan MI Kelas V. Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: FAKULTAS ILMU SOSIAL > Pendidikan Ilmu Pengetahuan sosial
Divisions: FAKULTAS ILMU SOSIAL
Depositing User: UPT PERPUSTAKAAN UNM
Date Deposited: 07 Dec 2016 00:49
Last Modified: 07 Dec 2016 00:49
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/1625

Actions (login required)

View Item View Item