STRATEGI ADAPTIF TRADISI TAU-TAU (PATUNG ARWAH) SEBAGAI WARISAN LELUHUR SUKU TORAJA

Jayadi, Karta (2012) STRATEGI ADAPTIF TRADISI TAU-TAU (PATUNG ARWAH) SEBAGAI WARISAN LELUHUR SUKU TORAJA. In: Internasional Seminar "Warisan Nusantara Indonesia 2012", 18-19 Desember 2012, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
Text
prosiding warisan budaya.pdf

Download (9MB) | Preview
[img]
Preview
Text
PROSIDING 001_Suku Toraja.pdf

Download (895kB) | Preview
[img]
Preview
Text
STRATEGI ADAPTIF TRADISI TAU-TAU (PATUNG ARWAH) SEBAGAI WARISAN LELUHUR SUKU TORAJA.pdf

Download (3MB) | Preview

Abstract

Abstrak “Tau-tau adalah “patung figur” seseorang kaum bangsawan suku Toraja penganut Aluk To Dolo yang telah meninggal dunia. Ada 3 jenis tau-tau yaitu: tau-tau nangka’, tau-tau lampa, dan batelepong. Tau-tau merupakan salah satu perlengkapan utama pada upacara pemakaman (rambu solo’) kaum bangsawan (tana’ bulaan, tana bassi). Setelah upacara pemakaman selesai, hanya tau-tau nangka yang disimpan di atas tebing berjajar bersama tau-tau nangka lain sebelumnya yang masih dalam satu ikatan keluarga besar. Sedangkan tau-tau lampa dan batelepong dibuang ke semak-semak setelah upacara pemakaman selesai. Keberadaan tau-tau mengalami perubahan ketika secara berangsur-angsur kepercayaan Aluk To Dolo mulai ditinggalkan oleh sebagian besar orang Toraja yang beralih ke agama Kristen dan Islam. Peralihan kepercayaan tersebut sangat mempengaruhi keberadaan Tau-tau yang memang dibuat sepenuhnya berdasarkan ajaran Aluk To Dolo. Bagi kelompok masyarakat yang ekstrim bahkan berpendapat bahwa sudah saatnya pembuatan tau-tau dihentikan karena bertentangan dengan kepercayaan baru yang dianutnya saat ini. Sedangkan kelompok masyarakat lainnya yang lebih demokratis berpendapat bahwa tau-tau boleh saja tetap dibuat tetapi dengan meng-anggapnya sebagai sebuah tradisi seni semata tanpa ada kepercayaan lain menyertainya bahwa dalam tau-tau terdapat roh nenek-moyang sehingga tau-tau tersebut harus dihormati dan disembah. Sebagai warisan budaya Toraja, tradisi pembuatan tau-tau selayaknya tetap mendapat tempat yang dapat diterima sebagai identitas suku Toraja. Karena itu strategi adaptif sangat mendesak untuk menyelamatkan keberadaannya. Strategi adaptif tersebut diantaranya melalui: tetap diadakan pembuatan tau-tau bagi kaum bangsawan Toraja yang meninggal sesuai stratifikasi sosialnya, dengan konsep utama sebagai identitas yang bersangkutan tanpa ritual sakral kepercayaan Aluk To Dolo sejak proses awal pembuatan hingga penempatannya di pemakaman; bahan utama pembuatan tau-tau dapat saja dari berbagai material beserta asesorisnya; mendukung pembuatan tau-tau cenderamata. Kata Kunci: Tau-tau, Aluk To Dolo, Adaptif, Suku Toraja

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: KARYA ILMIAH DOSEN
Universitas Negeri Makassar > KARYA ILMIAH DOSEN
Divisions: FAKULTAS SENI DAN DESAIN
Depositing User: Herling HR Sahade
Date Deposited: 12 Oct 2018 05:10
Last Modified: 15 Oct 2018 05:06
URI: http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/11125

Actions (login required)

View Item View Item